Jumat, 23 September 2011

NASIP

Waktu muda seakan aku dapat menikmati isi dasar laut
Menguak untaian Jambrut khatulistiwa
Walaupun sulit dilihat, dipandang atau diterawang mata telanjang
Namun aku tetap ingin melihat dan memandang panorama indah bawah laut, walau harus penuh perjuangan


Aku ingin gembira, candaria dan bercengkerama bersama ikan kecil warna - warni...
Aku juga ingin tahu...berapa banyak limpahan harta kekayaan perut Ibu Pertiwi.
Agar aku dapat cerita, menyanyi dan bersenandung lagu, 
pesan angin lalu untuk anak cucu.

Pesanku : 
" Tandang ke gelanggang mesthi seorang, 
maju satu seribu datang membantu, 
jangan pulang tanpa kemenangan "


Lagu dan pesan para leluhur yang gugur, 
meninggal menantang menghadang Si Angkara Murka 
mereka rela meninggalkan harta dan kemewahan, 
duka derita dan cucuran air mata bukan penghalang, 
demi satu yang dituju, tegaknya harkat dan martabat serta harga diri anak cucu,
Beliau berharapan... anak cucu dapat menikmati bersama, anugerah Allah Yang Maha pemurah


Tetapi sudah delapan windu lebih, 
tanda pesan belum tampak terbukti...
Omong kosong, janji palsu, yang didapat hanya rayuan gombal, penuh tipudaya jeratan maut.


Pintu berlalu tutup,
Bakti bagi Ibu Pertiwi usai, 
Angin lalu sudah berlalu
Kini sisa tinggal tulang tua yang rapuh.. 
Kulit kencang sudah mengkerut, 
Dahulu wajah yang tampak tampan mulai keriput, 
Namun....
Kenikmatan, kebahagiaan dan keindahan panorama, hingga kini belum juga dapat
Yah !...nasip...